on Story “Liku Waktu”

on Story “Liku Waktu”

Ya, pertama kalinya IAIN Curup mengadakan PPL KPM Internasional, kali ini tepatnya di Thailand, diikuti 26 orang yaitu 13  mahasiswa dan 13 mahasiswi. Sore itu kami berangkat pada pukul 17.00 dari IAIN Curup menggunakan bis. Langsung dilepas oleh kepala Biro, Rektor IAIN Curup yang diwakili oleh wakil rektor 1,2 ,3 ketua Jurusan Tarbiyah dan kepala P3M. Tentu juga teman dan keluarga. Selama kurang lebih 21 hari, mulai tanggal 8 hingga 29 Oktober 2018.

Perjalanan memakan waktu 13 jam dari Curup ke bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Tiba pada waktu subuh. Jam 8.30 pesawat lepas landas dan terbang selama 1 setengah jam. Tiba di Malaysia pukul 9.30. menanti bis jemputan datang hingga pukul 11.45 untuk berangkat ke Thailand. Kali ini  Malaysia – Thailand kami tempuh dengan waktu 9 jam.

Sebuah kenaasan terjadi, 3 orang tertinggal  dikantor pengambilan  formulir  warga  asing karena kurangnya komunikasi, setelah  sebelumnya  sepanduk  yang  bertuliskan KPM PPL & magang tertinggal di bus waktu di Palembang juga sapanduk PBI yang tertinggal di kabin Pesawat, hingga bagasi yang melampaui batas. Ya sebagai bahan evaluasi juga sebagai pengalaman berharga bahwa ketika bersama harus saling koordinasi.

Tibalah kami di Thailand pukul 9 malam waktu setempat, disana kami disambut oleh kepala PISA, kepala yayasan, kepala sekolah, dan pengurus pesantren. Alhamdulillah sudah disediakan Tempat untuk beristirahat. Dan makan malam khas Thailand yaitu Kwe Tiauw. Sedikit berbeda dengan Kwe Tiauw ala Indonesia.

Waktu subuh tiba, kami melaksanakan sholat subuh berjamaah, lalu sarapan dan Prepare Opening Ceremony sekaligus pembagian tempat untuk masing- masing  kelompok, kelompok 1 hingga kelompok 6. Menariknya, tempat kelompok seketika berubah, kelompok 1 dan 6 yang awalnya menjadi satu tempat disekolah tingkat secondary, menjadi berpisah dan ditempatkan dikelas primary dan juga secondary, begitu juga kelompok 1 juga kelompok lainnya. Kelompok 3 dan 4 menjadi satu tempat. Anggota kelompok juga ada yang di change.

Persiapan untuk mengajar pada tingkat Secondary ( yaitu setingkat SMA, namun berbeda dengan Indonesia sebab tingkatan tersebut ditentukan berdasarkan kemampuan siswa, tidak tergantung pada usia selama belum menikah) ternyata mengajar Primary ( setingkat dan SD). Tantangan besar bagi kami untuk mengubah seluruh perangkat pembelajaran juga metode pelaksanaannya.

Hari pertama mengajar, kami isi dengan Opening Ceremony di pagi hari dan siang harinya untuk perkenalan sekaligus Need Assessment (atau melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam berbahasa).

Para siswa yang tidak paham akan bahasa Arab, inggris, dan juga melayu membuat kami kerepotan dalam menyampaikan pesan dan maksud tujuan kedatangan kami disekolahnya. Namun kami sangat terbantu dengan adanya penerjemah, yaitu pemuda Thailand yang sedang kuliah di Indonesia, Sulawesi, kebetulan pulang karena gempa dan Tsunami.

Setelah mendapatkan data kami mulai menyusun kembali perangkat pembelajaran nya. Ini lah waktunya menggunakan the power of  “kepepet”, dalam semalam selesai, mengajarkan bahwa ketika kita serius dalam mengerjakan suatu hal, tidak ada yg tak bisa dan tidak ada yang tak mungkin.

Alhamdulillah, sekolah juga sangat mendukung dengan menyediakan segala keperluan untuk mengajar, mulai dari printer, fotokopi, beserta ATK dan juga bahan untuk media pembelajaran, seperti infokus, juga jaringan internet Wi-Fi 24 jam dengan server khusus untuk kami.

Waktu berlalu, keseharian kami (Kelompok 6 Hat Yai) karna KPM dan PPL maka dari pukul 8.30 – 15.00 kami mengajar disekolah untuk PPL, dan sore harinya untuk agenda KPM. Malam harinya untuk evaluasi dan menyiapkan materi serta membuat media ajar terbaru.

Hari kedua kami terkejut dengan tidak adanya penerjemah, sebab ia memang hanya di undang waktu opening ceremony. Hal itu membuat kami panik, bingung, dan serasa mau pulang ke Indonesia, awalnya.

Terbayang pasti bagaimana jika dua orang berinteraksi tanpa paham bahasa antara satu dengan lainnya. Apalagi ini satu kelas tidak ada yang paham akan apa yang kami ucapkn, dan kami pun tak paham dengan apa yang mereka ucapkan. Al hasil bercampur lah antara bahasa Curup, Indonesia, Melayu, Inggris, Arab, Thailand juga bahasa Isyarat.

Hari terlewati, masyarakat yang begitu hangatnya menyambut kehadiran kami. Mulai dari pemilik warung makan yang ngajak ber swafoto hingga tokoh masyarakat pengurus Masjid Jabalussalam Hat Yai yang langsung mengundang kami untuk datang makan malam kerumahnya, sampai menghadiri undangan Syukuran pernikahan warga sekitar.

Tidak hanya itu saja, bahkan kami dihantarkan sarapan pagi hingga dihantarkan keliling kota kabupaten Hat Yai hanya untuk sekedar melihat dan mampir ke tempat wisata. Mulai dari pukul 8 hingga 9 malam. Beberapa Spot yang kami kunjungi diantaraya, central Festival, Hat Yai Park, Songklha Aquarium, Pantai Syamila, pantai kepala Naga, Masjid klang (Central Mosque Of Songkhla), dan Floating Market atau pasar apung.

Kondisi masyarakat Thailand berbeda dengan masyarakat Indonesia, apalagi menyangkut masalah agama terutama Islam, baik cara beragama, hingga rasa toleransi antar umat beragama yang begitu tinggi, berdasarkan info dari penduduk sekitar terdapat agama dengan populasi berbeda, Budha, Islam, Kristen dan Hindu. Islam disana begitu kental, Sholat 5 waktu dimasjid untuk laki- laki seperti tak pernah tinggal dibuktikan dengan banyaknya jamaah setiap waktu sholat. Selain itu juga kekeluargaan antar jamaah begitu erat.

Penerapan Islam yang begitu apik terlihat dari warganya yang damai aman dan tentram, sekolah – sekolah Islam, baik berupa pesantren atau IT (sekolah Islam Terpadu; penyebutan di Indonesia) banyak berdiri, tercatat terdapat 83 sekolah se provinsi Songkhla yang berbasis Islam, baik dari tingkat Taman Kanak-kanak, primary hingga secondary, untuk daerah dengan mayoritas masyarakat beragama Budha. Jumlah siswanya disetiap sekolah pun tak tanggung tanggung, 1000 hingga 2000 siswa yang menempuh pendidikan disatu sekolah.

Fasilitas yang di sediakan juga sangat mendukung untuk keberlangsungan proses belajar mengajar, mulai dari ruang kelas yang dilengkapi dengan TV monitor, kipas angin dan AC,mobil operasional, jaringan wifi, tenaga pengajar hingga makanan ringan yang disediakan sekolah. Dalam hal keamanan sekolah juga sangat memperhatikan, dengan memasang CCTV di setiap sudut ruangan. Walaupun tingkat kejujuran warga Thailand bisa dikatakan cukup tinggi, sebab banyak warga yang hanya memakirkan mobil/atau motornya di depan rumah pada malam hari.

Selanjuntnya, bagi muslim Thailand, kata – kata  ‘Sawadhi Khap” tidak lagi digunakn dalam kehidupan sehari hari, dan menggantikannya dengan salam sambil berjabat tangan, baik itu kepada anak-anak, orang dewasa ataupun seumuran. Berjalan bersama walaupun dalam kelompok tidak dibolekan, harus laki-laki berjalan duluan, baru yang perempuan menyusul dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.

Adat pernikahan warga Thailand yang Muslim setelah ijab kabul adalah dengan mengadakan do’a bersama dan syukuran saja, tidak menggunakan lagu, nyanyian ataupun tarian, menurut warga sekitar, karena halterseut adalah Tradisi masyarakat yang bergama Budha, maka Islam tidak boleh mengikutinya. Kasus perceraian yang beragama Muslim begitu sedikit, sebab salah satu syarat menikah adalah seorang laki-laki harus sudah memiliki pekerjaan, dan mampu membayar mahar sekaligus acara syukuran sebesar 100.000 bath atau sama dengan Rp. 48.000.000 dengan demikian secara tidak langsung taraf perekonmian masyarakat Thailand cukup bagus.

Saat pembekalan berangkat ke Thailand, kami sempat berlatih menari, dan menyanyi untuk ditampilkan disana, namun sebab mereka tidak menyukainya maka tidak kami tampilkan, padahal gitar sudah dibawa, pakaian adat sudah disiapkan. Alat musik bagi mereka adalah hal yang tabu. Tarian bagi meraka adalah gerakan yang tidak layak untuk dilihat apalagi jika penarinya seorang perempuan. Tidak hanya itu saja, topi yang biasa kita gunakan di Indonesia,  dibeberpa tempat di Thailand tidak dibolehkan sebab menurut mereka menyerupai lidah anjing yang menjolor keluar.

Segi berpakaian masyarakat Islam Thailand begitu menjunjung tinggi identitasnya sebagai seorang Muslim, laki-laki dengan Gamis Panjangnya, dan perempan dengan jilbab lebar hingga cadarnya, baik anak kecil, dewasa juga lansia. Namun ada juga warga muslim yang berjilbab namun memakai pakaian kaos dengan lengan pendek. Sedikit aneh memang, tapi jika sudah menemukannya beberapa kali keanehan itu hilang.

Namun, keadaaan itu sangat kontradiktif dengan keadaan warga Thailand yang berada di tengah kota besar, yang bisa dikatakan bebas. Pakaian cingkrang, paha diumbar dan dada dibuka lebar adalah hal yang lumrah bagi mereka. Anting, tindik dan tato adalah hal wajar bagi anak mudanya. Walau demikian kerukunan dan toleransi sangat tinggi. Yang pakain cingkrang tidak mengganggu yang bercadar, begitu sebaliknya. Yang berjenggot tidak menggangu yang bertindik juga sebaliknya.  Bahkan di salah satu tempat wisata Floating Market, ketika adzan maghrib berkumandang, aktivitas nyanyian, tarian, dan musik dihentikan, dan diumumkan untuk dilanjutkan setelah umat Muslim melaksankan Sholat, tidak hanya setelah adzan langsung dlanjutkan. Beda dengan di Indonesia, khuhusnya Curup.

Pelaksanaan sholat 5 waktu selalu diadakan dimasjid, lagi bagi kami pengalaman baru sebab setelah adzan berkumandang hanya beberapa gelintir saja yang hadir, adzannya pun tidak menggnakan banyak cengkok, nada datar dan pendek-pendek adalah gaya adzan disini. Setelah 15 menit berlalu penuhlah masjid itu. Ooo ternyata karena banyak yang sedang bekerja juga jarak rumah dengan masjid yang cukup jauh maka memberikan waktu 15 hingga 20 menit untuk berkemas dan menyiapkan diri agar dapat melaksanakan sholat berjamaah.

Di Indonesia ketika hari Jum’at biasanya jama’ah lebih awal datang dan sebelum khotib naik mimbar, masjid sudah penuh. Kami terkejut ketika pelaksanaan Sholat Jum’at disini. Saat adzan berkumandang hanya 5 sampai 7 orang saja yang hadir juga tidak ada khotib naik mimbar., timbul pertanyaan apakah dimasjid ini tidak dilaksanakan sholat Jum’at,? terbesit dalam hati wah bahaya. Masjid tapi tidak dilaksanakan sholat Juma’at.  Ternyata setelah 15 menit jama’ah sudah memenuhi ruangan dalam masjid. Baru lah Iqomah. Lantas tidak khutbah? Sedangkan rukun sholat jum’at adalah dengan didahului oleh dua khutbah yang mana merupakan salah satu waktu ketika berdo’a dengan ikhlas akan cepat diijabah oleh Allah. Hemm dugaan kami salah lagi, setelah iqomah, Khotib langsung naik mimbar menyampaikan Khutbahnya, tentu kami tidak paham dengan apa yang disampaikannya karena menggunakan bahasa Thailand. Setelah khutbah barulah iqomah lagi untuk melaksanakan Sholat Jum’at. Masjid yang awalnya hanya 5 higga 7 orang saja, menjadi banyak hingga teras masjid digunakan untuk sholat Jum’at.

Seminggu, siswa dan guru yang mulai akrab semakin akrab, baik untuk berbagi pengalaman, berbagi cerita dan belajar bersama hingga di hari terakhir pun tiba. Jum’at 26 Oktober 2018 adalah hari terakhir PPL, kali ini Closing Ceremony diadakan di Hat Yai Park, yang merupakan taman umum. Disanalah haru dan rindu berawal. Perpisahan yang hanya diawali dengan pertemuan singkat selama 12 hari itu sangat berkesan bagi kami. Pelajaran yang begitu berharga bisa bersua, berjumpa dan bertemu dengan siswa, guru dan masyarakat Thailand.

Beberapa cinderamata kami tinggalkan untuk dijadikan kenangan agar ingat akan kehadiran kami dan kebersamaan yang singkat itu. Ahad 28 oktober 2018, tepat hari Sumpah Pemuda di Indonesia, kami berpamitan kepada masyarakat Hat Yai. Lagi, haru rindu, dan harapan besar terpancar dari sorot mata ayah, ibu, “kami senang dan kami merasa bangga ada mahasiswa yang datang kesini, mengajarkan anak – anak kami dan berbagi pengalaman tentang luasnya dunia ini, kami harap kedatangan kalian dilain waktu” beberapa patah kata yang sempat terucap oleh bapak bapak disana yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Senin 29 Oktober 2018, kami dipertemukan kembali dengan kelompok lain di salah satu restoran D’Hat Yai. Lagi pecah isak tangis haru dan rindu. Sebab maghrib itu adalah pertemuan terakhir pada kesempatan kali ini. Moment foto bersama, bertukar kontak person dan media sosial hingga buah tangan sebagai kenang- kenangan pun tak lekang. Bis tiba pukul 19.00 waktu Thailand, perlahan berjalan. Lambaian tangan dan tetes air mata menghantarkan kepulangan kami di tengah sepoy angin dan hiruk pikuknya malam.

Sembilan jam diperjalanan, dari Thailand hingga akhirnya tiba di bandara QL (Quala Lumpur Air Port) pukul 04.37. sholat subuh, sarapan dan prepare untuk boarding. Pesawat jam 1.55 lepas landas. Namun perjalanan dibandara tak semulus perjalanan naik bus.

Bagasi yang awalnya bisa di gabungkan untuk rombongan ternyata tidak bisa, maka terpaksa bongkar ulang muatan koper, dan  saling berbagi membawa barang. Sempat bersitegang dangan petugas yang plin plan hingga terpaksa mengeluarkan uang tambahan untuk bagasi. Bahkan makan siang yang seharusnya menjadi maka  siang terakhir di luar negeri terpaksa ditinggalkan karena kelebihan muatan.

Waktu menunjukkan pukul 12. 30, hanya beberapa orang yang bisa masuk untuk check in. Sebagian lainnya, mengakali barang barang yang tidak bisa masuk ke kabin sebab kelebihan muatan. Parahnya tak ada lagi cadangan uang untuk bagasi. Kini 13. 30 belum juga selesai. Masih beberapa orang lagi yang belum bisa masuk. Sebagian lainnya sudah mengambil boarding dan tinggal masuk kepesawat. Pukul 13.50 belum juga nampak kawan kawan yang belum masuk.

Maka kebesaran Allah, tepat pukul 13.53 semuanya sudah bisa masuk, suasana tegang menjadi lega dan bahagia setelah lengkap semua. Namun belum berhenti disitu saja, beberapa barang tertinggak di troli, hingga mendapat teguran dari petugas untuk menyatukan barang bawaan  sebab kami membawa barang yang terlihat banyak. Sekejap kami satukan kemabali barang barang yang sudah terpisahkan.

Pukul 14.00 setempat (Kuala Lumpur-Malaysia) pesawat lepas landas dari bandara QL menuju palembang memakan waktu satu setengah jam perjalanan, kecemasan kami ditambah dengan cuaca hujan dan informasi adanya pesawat jatuh di Indonesia. Alhamdulillah tepat pukul 15.32 pesawat mendarat dengan selamat dengan guyuran hujan, dilanjutkan menunggu pengambilan bagasi. Mobil bis penjemputan  dari IAIN Curup juga alhamdullilah sudah stay menunggu kami. Perjalanan kali ini memakan waktu 13 jam dari palembang menuju Curup, Bengkulu. Sampailah di curup dengan sehat dan selamat.

Alhamdullillah perjalan berharga yang tak terlupakan.(@inspiratormuda)